Senin, 03 Oktober 2011

Kembali Menanamkan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa kepada Siswa

            Saat ini, bangsa Indonesia kembali memulai menanamkan nilai – nilai karakter bangsa di berbagai bidang. Salah satunya yang berkaitan erat dengan nilai – nilai karakter bangsa yaitu dunia pendidikan.  Berdasarkan Kemendiknas melalui Balitbang pusat kurikulum, terdapat 18 nilai karakter bangsa yang diharapkan bisa ditanamkan oleh guru kepada siswa nya yaitu (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa ingin tahu, (10) Semangat kebangsaan (11) Cinta tanah air, (12) Menghargai prestasi, (13) Bersahabat / komunikatif, (14) Cinta damai, (15) Gemar membaca, (16) Peduli lingkungan, (17) Peduli sosial, (18) Tanggung jawab. Melihat fenomena dan kondisi siswa saat ini, menanamkan ke 18 budaya dan karakter bangsa tersebut bukan hal mudah bagi guru di lapangan.
            Pertanyaan besar yang ada dalam ada dalam benak kita “Seberapa buruk kah karakter bangsa Indonesia hingga harus kembali menanamkan ke 18 karakter bangsa tersebut melalui jalur pendidikan?” Fenomena yang baru saja kita temui dilapangan tawuran siswa SMAN 6 Jakarta. Melihat fenomena tersebut, dimanakah nilai budaya karakter bangsa Indonesia????
            Berangkat dari kata karakter, diartikan sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Guru di sekolah memiliki beban yang cukup berat dalam menanamkan kembali nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa. Setiap siswa berangkat dari kondisi lingkungan keluarga yang berbeda-beda. Begitupun dengan pendidikan yang telah ditempuh baik di keluarga maupun di sekolah sangat mempengaruhi karakter siswa. Sebelum masuk ke sekolah, siswa sudah memiliki karakter masing-masing dengan berbagai keunikannya.  Karakter yang dimiliki oleh siswa juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar tempat tinggal, lingkungan bermain, dan pergaulan yang siswa jalani setiap hari.
Dalam hal ini, lingkungan memiliki pengaruh yang cukup kuat, hampir setiap hari ditayangkan acara televisi berupa kekerasan, tawuran antar warga, tawuran antar siswa yang seolah – olah menarik untuk diikuti oleh siswa. Belum lagi tayangan kasus – kasus korupsi,  ketidak adilan, dan lain – lain. Secara tidak langsung ini diserap oleh siswa dalam memorinya dan menjadi referensi dalam kehidupannya.
Penulis ingin menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan budaya dan karakter bangsa ini bukan hanya di tangan guru melalui proses pembelajaran. Namun banyak faktor di luar institusi sekolah yang juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap pembentukan karakter seorang siswa. Guru memiliki jam tatap muka yang terbatas, memiliki target materi yang harus dicapai, dan tugas – tugas lain sebagai tenaga kependidikan di sekolah. Jadi sangat naïf sekali jika keberhasilan pendidikan karakter bangsa hanya dititikberatkan kepada guru di sekolah dengan berbagai keterbatasan yang ada.
Namun ini bukan sebagai alasan untuk berlindung dibalik keterbatasan guru di sekolah. Setiap guru hendaknya menyadari tugas dan tanggung jawab pendidikan karakter bangsa ini merupakan salah satu tugas yang harus dilaksanakan melalui proses pembelajaran. Guru sebaiknya lebih kreatif mengemas proses pembelajaran agar pendidikan budaya dan karakter bangsa dapat tersampaikan kepada siswa dengan baik. Sebagai contoh, siswa dilatih untuk mempertanggungjawabkan hasil diskusi atau hasil pekerjaannya melalui forum kelas. Selain itu dalam forum kelas, siswa belajar untuk toleransi, cinta damai, demokrasi dan berkomunikasi. Seandainya guru lebih kreatif merencanakan, memilih model pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, dan membuat media pembelajaran, pendidikan budaya dan karakter bangsa dapat dipelajari oleh siswa dengan baik.
Factor lain yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru dalam menanamkan pendidikan budaya dan karakter bangsa yaitu konsistensi. Tanpa konsistensi sebaik apapun program, tidak akan berhasil dengan baik. Penulis yakin, jika seorang guru cukup kreatif dan konsisten dalam menanamkan pendidikan budaya karakter bangsa kepada siswa, diikuti dengan konsistensi yang baik, pendidikan budaya karakter bangsa dapat tercapai dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar