I. Pendahuluan
Setiap negara diseluruh dunia begitu menekankan pentingnya kualitas pendidikan. Indonesia merupakan salah satu negara yang terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di berbagai tingkat pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Berbicara tentang kualitas pendidikan, begitu banyak faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan di Indonesia. Secara garis besar terdapat beberapa faktor yang secara langsung mempengaruhi kualitas pendidikan, diantaranya: faktor guru, kurikulum, sarana dan prasarana sekolah, dan tentunya anggaran.
Salah satu faktor yang memiliki pengaruh cukup besar dalam peningkatan kualitas pendidikan ini yaitu faktor guru. Guru merupakan kunci dari peningkatan kualitas pendidikan secara umum. Guru merupakan individu yang setiap hari berinteraksi secara langsung dengan siswa sebagai peserta didik membangun pengetahuan dan karakter siswa yang pada akhirnya menentukan kualitas pendidikan.
Peran guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan sangatlah penting. Seorang guru bertugas untuk meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai kepada siswa. Dalam tugas pentingnya ini guru memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang cukup agar proses tersebut berjalan dengan baik dan berhasil sehingga kualitas pendidikan menjadi baik.
Peran seorang guru dalam pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan kelas. Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Hal-hal tersebut pula yang menjadi indikator rendahnya kualitas pendidikan di indonesia.
Merupakan suatu permasalahan yang harus dipecahkan adalah bagaimana cara meningkatkan kualitas guru sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan secara umum. Peningkatan kualitas guru tidak cukup hanya dengan menentukan gelas minum adalah S1. Tidak cukup juga hanya dengan meningkatkan profesionalisme melalui sertfikasi guru. Diperlukan cara yang lebih kongkret untuk meningkatkan kualitas guru dalam tugasnya sebagai pengelola proses pembelajaran di kelas. V
Pemerintah selalu berusaha melakukan usaha peningkatan mutu guru melalui pelatihan dan tidak sedikit dana yang dialokasikan untuk kegiatan tersebut. Sayangnya usaha dari pemerintah tersebut kurang memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan mutu guru. Minimal ada dua hal yang menyebabkan pelatihan guru belum berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan. Pertama, pelatihan seringkali tidak berbasis pada masalah nyata yang timbul di dalam kelas. Materi pelatihan yang sama disampaikan kepada semua guru tanpa mengenal daerah asal. Padahal kondisi sekolah di suatu daerah belum tentu sama dengan daerah lainnya. Kadang – kadang pelatih menggunakan sumber dari literatur asing tanpa melakukan ujicoba terlebih dahulu untuk kondisi di Indonesia. Kedua, hasil pelatihan hanya menjadi pengetahuan saja, tidak diterapkan pada pembelajaran di kelas atau kalaupun diterapkan hanya diterapkan sekali saja, dua kali dan selanjutnya kemabli “seperti dulu lagi, back to basic”. Hal ini disebabkan tidak ada kegiatan monitoring pasca pelatihan, apalagi kalau kepala sekolah tidak pernah menanyakan hasil pelatihan. Selain itu kepala sekolah tidak memfasilitasi forum sharing pengalaman diantara guru – guru.
Dalam rangka mengatasi pengalaman pelatihan konvensional yang kurang menekankan pada pasca pelatihan maka diperlukan model in service training yang lebih berfokus pada upaya pemberdayaan guru sesuai dengan kapasitas serta permasalahan yang dihadapi masing – masing. Model tersebut adalah Lesson Study (LS) yaitu suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip – prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Dengan demikian, Lesson Study bukan suatu metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan Lesson Study dapat menerapkan berbagai metoda/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru.
II. Lesson Study Pengembangan Profesi Guru
A. Sejarah Lesson Study
Lesson study merupakan kata dari bahasa Jepang jugyokenkyuu, yang diciptakan oleh Makoto Yoshida. Lesson study dapat juga diterjemahkan secara terbalik sebagai 'research lesson' (diciptakan oleh Catherine Lewis), penelitian/studi tentang lesson (Chokshi et al, 2001). Dengan demikian lesson study dapat diartikan penelitian/studi tentang KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).
Konsep lesson study mulai berkembang dalam dunia pendidikan sekitar tahun 1995, pada saat kegiatan The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) yang diikuti oleh empat puluh satu negara dan ternyata dua puluh satu negara di antaranya memperoleh skor rata-rata matematika yang secara signifikan lebih tinggi dari skor rata-rata matematika di Amerika Serikat. Posisi tersebut membuat Amerika Serikat melakukan studi banding pembelajaran matematika di Jepang dan Jerman. Dari studi banding tersebut Tim Amerika Serikat menyadari bahwa Amerika Serikat belum memiliki sistem untuk melakukan peningkatan mutu pembelajaran, sedangkan Jepang dan Jerman melakukan peningkatan mutu secara berkelanjutan. Oleh karena itu, para ahli pendidikan Amerika Serikat mengadopsi lesson study dari Jepang dan kemudian mengembangkannya di negara-negara lain.
Di Jepang para guru dapat meningkatkan ketrampilan/ kecakapan dalam mengajarnya melalui kegiatan Lesson Study, yakni belajar dari suatu pembelajaran. Lesson study merupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Lesson study dilakukan diwilayah guru mengajar dengan menggunakan kelas dalam lingkungan nyata, sehingga akan membiasakan guru bekerja secara kolaboratif baik dengan guru bidang studi dan dengan guru diluar bidang studi, bahkan dengan masyarakat. Lesson Study merupakan kolaboratif antar guru dalam menyusun rencana pembelajaran beserta research lessonnya, pelaksanaan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dikelas yang disertai observasi dan refleksi. Dengan lesson study para guru dapat leluasa meningkatkan kinerja dan keprofesionalannya yang akhirnya dapat meningkatkan mutu pembelajaran.
Di Indonesia, konsep lesson study berkembang melalui program Indonesia Mathematics and Science Teacher Education Project (IMSTEP) yang diimplementasikan sejak sejak Oktober tahun 1998 di beberapa perguruan tinggi seperti : IKIP Bandung (sekarang UPI), IKIP Yogyakarta (sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta/ UNY), dan IKIP Malang (sekarang menjadi Universitas Negeri Malang) yang telah bekerja sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency). Perkembangan selanjutnya, lesson study tidak hanya dilaksanakan pada mata pelajaran MIPA, tetapi mulai diterapkan juga di mata pelajaran yang lain.
Dalam rangka mensosialisasikan lesson study ini kepada sekolah-sekolah/guru-guru di Indonesia, maka Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) melihat bahwa KKG dan MGMP menjadi wahana yang ampuh untuk meningkatkan kompetensi pendidik secara berkelanjutan. Oleh karena itu, lesson study akan sangat tepat apabila dapat diterapkan menjadi salah satu kegiatan di KKG dan MGMP.
Menurut sumber lain, Lesson Study diperkenalkan di Indonesia melalui kegiatan piloting yang dilaksanakan dalam proyek follow-up IMSTEP-JICA di tiga perguruan tinggi yaitu UPI, UNY, dan UM. Di UM sendiri lessson study diperkenalkan di Malang secara formal oleh JICA expert Eisoke Saito, Ph.D. pada bulan januari 2004, selanjutnya diikuti kegiatan pengimplementasian lesson study di SMA labotarium Universitas Negeri Malang (I Made Sulandra, 2006). Pada saat itu Lesson Study merupakan hal yang baru bagi sebagian sebagian besar guru di Indonesia.
Lesson Study mulai diterapkan pada tahun 2004 yang hasilnya menunjukkan terjadinya peningkatan profesionalisme guru dalam melakukan pembelajaran di sekolah, meningkatkan kolaborasi akademik dan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Efektifitas dan efisiensi program Lesson Study yang ditunjang oleh kegiatan monitoring dan evaluasi (MONEV) yang didukung dengan sistem rekaman audiovisual, sehingga para guru lebih mudah untuk mengkaji ulang mutu pembelajaran berdasarkan data dan fakta yang sesungguhnya.
B. Pengertian Lesson Study
Jika kita guru memiliki anggapan bahwa lesson study itu model mengajar atau metode mengajar ternyata anggapan itu tidak tepat/ salah, karena sesungguhnya lesson study bukanlah metode/model mengajar.
Hal ini penting untuk menunjukkan hakikat lesson study yang sebenarnya, agar jangan ada kesalahan dalam memahami apa sesungguhnya lesson study tersebut. Lesson studi sama sekali bukan termasuk salah satu dari bentuk metode mengajar yang selama ini telah kita kenal, seperti ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok, inkuiri, dan masih banyak lagi yang lain. Prof. Dr. M.J. Rice, profesor ilmu-ilmu sosial di Universitas Georgia, Amerika Serikat, mengelompokkan metode mengajar dalam 4 (empat) klasifikasi, yang keempat kelompok itu berada dalam satu kontinum yang terkait satu dengan yang lainnya, yaitu: (1) ekspositori, (2) pengumpulan data, (3) pengolahan data, dan (4) proyek. Jadi kembali perlu ditegaskan, bahwa lesson study bukanlah metode mengajar atau pun model pembelajaran yang telah kita kenal selama ini.
Apakah lesson study itu? ”Lesson study adalah proses kegiatan pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun learning community”.(Dr. Ibrohim, dosen Fakultas MIPA dari Universitas Negeri Malang).
Lesson study merupakan proses pengkajian pembelajaran. Lantas siapa saja yang melaksanakan pengkajian dalam kegiatan ini? Tentu jawabannya adalah kelompok guru yang sadar terhadap pentingnya upaya peningkatan kompetensi mereka dalam proses belajar mengajar. Para guru ini sadar bahwa proses pembelajaran yang selama ini telah dilaksanakan harus dikaji dari waktu ke waktu agar dapat lebih meningkat efektivitasnya bagi upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pertanyaan yang selalu diajukan dari waktu ke waktu antara lain adalah “bagaimana caranya agar para siswa saya dapat mudah memahami tentang apa yang saya ajarkan, dan dengan demikian hasil belajarnya menjadi meningkat?” Kesadaran inilah yang menyebabkan para guru tersebut secara bersama-sama mau melakukan proses pengkajiian proses pembelajarannya. Proses pengkajian ini dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Para guru tidak mau hebat sendiri, sementara guru yang lain hanya “doing as usual” atau melakukan apa adanya. Mereka ingin maju bersama, untuk bersama-sama mencerdaskan peserta didiknya. Harapan ideal yang ingin dicapai dalam kegiatan lesson study ini adalah membangun masyarakat belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hayat (life long learning).
Lewis (dalam Lia Yulianti, dkk, 2005), menyatakan bahwa Lesson Study merupakan siklus kegiatan kelompok guru yang bekerja bersama dalam menentukan tujuan pembelajaran, melakukan”research lesson”dan secara berkola borasi mengamati, mendiskusikan dan memperbaiki pembelajaran tersebut. Siklus dalam Lesson study dapat dilihat di bagan seperti berikut :
![]() |
C. Tujuan Lesson Study
Lewis (dalam Mucthar Abdul Karim, 2006) menyatakan bahwa Lesson Study dipilih dan di implementasikan karena beberapa alasan. Pertama, Lesson Study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas belajar dan mengajar serta pelajaran dikelas. Hal itu benar, karena:
1. Pengembangan Lesson Study dilakukan dan didasarkan pada hasil ”sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktek dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru.
2. Penekanan mendasar pada suatu Lesson Study adalah para siswa memiliki kualitas belajar.
3. Tujuan pelajaran dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pebelajaran dikelas.
4. Berdasarkan pengalaman riel di kelas, Lesson Study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran.
5. Lesson Study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran.
Kedua, Lesson Study yang di desain dengan baik akan menghasilkan guru yang profesional dan inovatif. Diharapkan dengan melaksanakan Lesson Study para guru dapat:
1. Menentukan tujuan pembelajaran (lesson) satuan (unit) pelajaran, dan mata pelajaran yang efektif.
2. Mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa.
3. Memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru.
4. Menentukan tujuan jangka panjang yang akan dicapai para siswa.
5. Menentukan pelajaaran secara kolaboratif.
6. Mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa.
7. Mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan.
8. Melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya.
Jadi, Lesson Study di pilih sebagai salah satu cara untuk meningkatkan proses pembelajaran, dimana seorang guru mengajak kerjasama guru yang lain. Kerjasama tersebut dimulai dari merancang pembelajaran, melaksanakan dan mengamati proses pembelajaran, serta melakukan diskusi/ refleksi terhadap pelajaran yang dilakukan. Istilah populer dalam Lesson study adalah plan-do-see- reflektion. Ketiga hal tersebut yang merupakan inti dari Lesson Study.
Lesson study merupakan kegiatan kajian terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Jadi, lesson study bukan metode mengajar, walaupun dalam kegiatan kajian pembelajaran tersebut konsep-konsep metode mengajar, media, dan alat bantu pembelajaran sudah barang tentu digunakan. Kegiatan kajian pembelajaran tersebut dilakukan oleh sesama guru dalam kegiatan kelompok kerja guru di suatu sekolah atau pun suatu tempat. Untuk apa kajian terhadap pembelajaran itu perlu dilakukan? Tentu saja, kajian pembelajaran itu akan sangat berguna untuk menemukan nilai-nilai positif atau praktif terbaik (best practices) dari pembelajaran yang dapat diambil, yang kemudian dapat dipertahankan dan ditularkan kepada guru-guru yang lain. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya tentu saja adalah untuk menemukan kelemahan-kelemahan atau bahkan kesalahan-kesalahan yang perlu diperbaiki atau untuk tidak dilakukan lagi oleh guru itu atau guru-guru yang lain. Dengan kata lain, lesson study merupakan upaya terencana dan berkelanjutan untuk melakukan kajian terhadap proses belajar mengajar seorang guru, untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan efektivitas pembelajaran bagi guru itu, yang secara kolegial bermanfaat untuk kepentingan perbaikan dan peningkatan efektivitas pembelajaran bagi guru-guru yang lain di sekolah atau di lingkungannya.
Dengan Lesson Study inilah, maka diharapkan terjadi peningkatan kompetensi guru sebagai bagian sistem pembelajaran yang berkelanjutan, agar selaras dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal yang perlu di ingat bahwa, peningkatan kompetensi guru merupakan amanat UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Upaya peningkatan guru bukan hanya kegiatan sesaat, tetapi lebih merupakan kegiatan berkelanjutan, yang dilaksanakan sesuai dengan konsep continuing professsional development (CPD).
Ada beberapa hal lain yang penting yang dapat diperoleh dari kegiatan lesson study, seperti: Pertama, para guru akan lebih terbuka dengan dunia luar. Ruang kelasnya tidak dikunci sendiri untuk tidak boleh menerima guru lain untuk melihat apa saja yang dilakukan guru itu setiap hari kerja dalam proses pembelajaran yang dilaksanakannya. Guru itu, juga perlu melihat apa yang dilakukan koleganya dalam proses pembelajaran.
Kedua, para guru akan saling belajar dan saling bekerjasama dalam meningkatkan kualitas proses pembelajarannya melalui peningkatan pemahaman bukan hanya tentang materi, tetapi juga metode, media dan alat bantu pembelajaran, tetapi juga teknik penilaian yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, fokus kegiatan lesson study adalah kajian pembelajaran sehingga dapat menemukan praktik terbaik (best practices), berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diamati dalam beberapa tahapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Ketiga, dengan praktik terbaik tersbut, para guru akan dilatih untuk dapat mencoba untuk menghasilkan inovasi baru dalam pembelajaran, melalui usulan tentang saran perbaikan yang diberikan oleh koleganya, juga melalui kreativitas-kreativitas yang kemudian muncul dalam praktik pembelajaran.
Keempat, hasil akhir yang diharapkan dapat diperoleh melalui lesson study ini adalah proses pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, yang dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa (student achievement).
D. Tahapan (langkah-langkah) yang perlu dilakukan dalam penyelenggaraan lesson study
Pada prinsipnya, Lesson study dilaksanakan dalam 3 tahapan, yaitu:
1. perencanaan (Plan);
2. pelaksanaan (Do); dan
3. refleksi (See).
![]() |
Skema Kegiatan Lesson Study
Namun sebelum melaksanaan tiga tahapan tersebut yang dijelaskan di atas, ada tahapan pra-kegiatan yang disebut proses persiapan. Persiapan ini merupakan bagian yang tentunya juga penting untuk dilakukan agar tahapan pelaksanaan Plan, Do, dan See berjalan sesuai tujuan yang diharapkan dalam kegiatan lesson study tersebut. Agar lebih jelas, mari kita simak beberpa kegiatan yang umum dilakukan dalam lesson study seperti berikut ini : Langkah Pertama : Lakukan semacam pertemuan kelompok guru untuk menyusun komponen pendukung kegiatan, seperti :
(1) Menentukan proses pembelajaran dalam pokok bahasan apa, mata pelajaran apa, dan kelas berapa, yang akan dikaji melalui lesson study;
(2) Tentukan/pilih siapa yang akan bertindak sebagai guru penyaji yang akan melaksanakan proses pembelajaran,
(3) Tentukan/pilih juga siapa saja guru yang akan bertindak menjadi pengamat dalam kegiatan lesson study tersebut. Untuk ini, guru penyaji harus memiliki kesadaran ”mau membuka” proses pembelajaran untuk diamati para guru yang lain, dengan tujuan utama mengetahui efektivitas proses pembelajaran, bukan mencari-cari kesalahannya.
Langkah Kedua: Jika rencana tersebut sudah disiapkan, dapat dilanjutkan dengan mencoba membuat lesson plan yang mencakup seperti penyusunan administrasi mengajar seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bersama. Teknisnya bisa saja RPP dirancang terlebih dahulu oleh guru penyaji yang telah dipilih, dan kemudian dibahas bersama oleh kelompok guru untuk menyempurnakan konsep yang telah dibuat. Administrasi yang perlu disusun dalam langkah ini lebih lengkap diantaranya seperti berikut :
a. RPP
b. Lembar kerja sisiwa (LKS)
c. Media atau alat peraga pembelajaran
d. Lembar penilaian proses dan hasil pembelajaran
e. Lembar observasi. (Sukirman, 2005)
Catatan : Ingat, bahwa penyusunan rencana pembelajaran ini dapat disusun oleh seorang guru atau beberapa orang guru yang sebelumnya telah ada kesepakatan tentang aspek-aspek pembelajaran yang telah direncanakan. Hasil penyusunan rencana tersebut perlu didiskusikan dengan guru lain dan pakar dalam kelompoknya untuk disempurnakan. Tahapan ini disebut sebagai tahapan "PLAN".
Langkah Ketiga, Setelah lesson plan disusun, maka tahapan berikutnya adalah proses pelaksanaan pembelajaran. Guru penyaji melaksanakan proses pembelajaran di kelas sebagaimana guru ini melaksanakan pembelajaran pada umumnya. Dalam proses pelaksanaan pembelajaran ini, para pengamat mengamati proses pembelajaran guru penyaji yang dimulai dari awal membuka pelajaran, kegiatan inti pelaksanaan pembelajaran, sampai dengan menutup pelajaran. Dan juga tidak lupa mengamati ketepatan prasyarat-prasyarat penggunaan metode dan media atau alat bantu pembelajaran. Para pengamat diharapkan untuk membuat catatan secara cermat. Tahapan ini dikenal sebagai tahapan "Do".
Langkah Keempat: Kelompok kegiatan guru ini kemudian mengadakan pertemuan berikutnya untuk mendiskusikan hasil pengamatan dari guru-guru yang lain. Dalam diskusi ini, sudah barang tentu para guru pengamat untuk mepresentasikan hasil catatan masing-masing, apakah itu hal-hal yang berhubngan dengan kesalahan, kekurangan yang dilakukan oleh guru penyaji pada saat tahapan"Do". Buatlah kesimpulan plus minus proses penyajian sesuai hasil diskusi kelompok dalam catatan khusus dan tersendiri. Hasil kesimpulan ini sebaiknya disusun secara tertulis, dan kemudian disosialisasikan kepada guru-guru yang lain, terutama yang menjadi penyaji dan pengamat dalam kegiatan lesson study tersebut. Sudah barang tentu, kesimpulan ini akan menjadi produk bersama yang amat bermanfaat untuk meningkatkan kompetensi para guru. Tahapan ketiga lesson study ini dikenal dengan tahapan "See".
Dari beberapa penjelasan tentang lesson study yang saya dapatkan, ada juga yang berpendapat bahwa lesson study dapat dilakukan dengan 7 (tujuh) langkah, seperti :
1. Pembentukan kelompok Lesson Study
2. Penentuan fokus Lesson Study
3. Perencanaan Lesson Study
4. Persiapan observasi
5. Pelaksaan dan observasi pembelajaran
6. Tanya jawab (diskusi)tentang pembelajaran yang dilaksanakan, dan
7. Refleksi dan perencanaan langkah berikutnya (Richarson, 2004)

Skema Kegiatan Lesson Study yang Terdiri Dari 7 Tahapan
E. Manfaat Lesson Study
Lesson study dapat memberikan cukup banyak manfaat, antara lain:
1. Mengurangi keterasingan guru dari komunitasnya khususnya dalam pembelajaran.
2. Meningkatkan akuntabilitas kinerja guru.
3. Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya.
4. Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum.
5. Menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan para guru tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa.
6. Meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.
Dapat merangsang keinginan guru untuk membuat karya tulis ilmiah (terutama CAR/PTK).
F. Implikasi Lesson Study terhadap Kinerja Guru
Dengan lebih seringnya guru melaksanakan lesson study, akan membawa dampak yang sangat baik bagi keberlangsungan pembelajaran di kelas dan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Setidaknya dampak yang diharapkan muncul ketika guru mengimplementasiakan Lesson Study di kelas sebagai berikut:
1. Peningkatan mutu guru dan mutu pembelajaran yang pada gilirannya berakibat pada peningkatan mutu lulusan (siswa).
2. Guru memiliki banyak kesempatan membuat bermacam ide pendidikan dalam praktik pembelajaran, sehingga dapat mengubah perspektif tentang pembelajaran, dan belajar praktik pembelajaran dari perspektif siswa.
3. Guru mudah berkonsultasi dengan akrab kepada pakar dalam hal pembelajaran atau kesulitan materi pelajaran.
4. Peningkatan kolaborasi antar guru dan antara guru dan pakar/dosen dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
5. Peningkatan keterampilan menulis karya tulis ilmiah.
III. Kesimpulan
Kegiatan LS pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang mampu mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning community) yang secara konsisten melakukan continus improvement baik pada level individu, kelompok, maupun pada sistem yang lebih umum. Pengetahuan yang dibentuk pada LS dapat dijadikan bahan peningkatan kualitas kinerja pihak – pihak yang terlibat. Peningkatan kualitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara umum.
IV. Pustaka
Sonal Chokshi, Barbrina Ertle, Clea Fernandez, & Makoto Yoshida (2001). Lesson Study Protocol Lesson Study Research Group tersedia di: www.tc.columbia.edu/lessonstudy/tools.html. 10.01. 2009
Fernandez, Clea; Yoshida , Makoto; Chokshi, Sonal; Cannon, Joanna (2001). An Overview of Lesson Study. Teachers College, Columbia University. Tersedia di www.tc.edu/lessonstudy 15.02.2009
Hendayana, Sumar et all (2006). Lesson Study, Suatu strategi untuk meningkatkan keprofesionalan pendidik (pengalaman IMSTEP-JICA). Bandung: UPI Press
Susianna, Nancy (……). Program Lesson Study. A Power Point Presentation.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar