KECERDASAN SPIRITUAL ( SQ )
Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti
roh. Kata ini berasal dari bahasa Latin, spiritus, yang berarti napas. Selain
itu kata spiritus dapat mengandung arti sebuah bentuk alkohol yang dimurnikan.
Sehingga spiritual dapat diartikan sebagai sesuatu yang murni. Roh bisa
diartikan sebagai energi kehidupan, yang membuat manusia dapat hidup, bernapas
dan bergerak. Spiritual berarti pula segala sesuatu di luar fisik, termasuk
pikiran, perasaan, dan karakter kita.Sebelumnya saya hendak mengingatkan dan
mohon agar dipahami dengan benar, bahwa spiritual bukanlah agama dan agama
bukanlah spiritual. Banyak sekali di antara kita yang menganggap bahwa keduanya
adalah hal yang sama. Padahal keduanya adalah jenis yang berbeda.Ketika kita
“berpikir” tentang hakekat kehidupan, memandang alam dan hidup ini sebagai
sesuatu yang penuh makna dan pelajaran, atau memahami konsep-konsep ketuhanan.
Lantas kita ”sadar” siapa diri kita sebenarnya, di mana tempat kita berada di
alam semesta dan ke manakah tujuan hidup kita. Insyaallah, itu berarti kita
telah memasuki wilayah spiritualitas. Sedangkan agama adalah alat spiritual,
yang berfungsi sebagai pegangan dan pembimbing kecerdasan spiritual. Dengan
kata lain agama adalah wadah bagi spiritual, sehingga agama yang benar (True
Religion) adalah agama yang mampu mengakomodasi segala kebutuhan spiritualisme
manusia. Bila agama yang anda peluk tidak mampu mengakomodir segala kebutuhan
spiritual anda, maka agama yang anda anut tidak benar dan anda wajib mengkaji
ulang agama yang anda yakini itu.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."
(Al-Isra
: 36)
Kecerdasan spiritual (SQ), merupakan temuan terkini
secara alamiah yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall
melalui riset yang sangat komprehensif. Danah Zohar dan Ian Marshall
mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi
persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku
dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk
menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan
dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan
EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita (Danah Zohar
dan Ian Marshall, “SQ: Spiritual Intelligence”, Bloomsbury, Great Britain).
Dalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk
memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku, dan kegiatan, serta mampu
menyinergikan IQ, EQ, dan SQ secara komprehensif. Meski keduanya berbeda,
ternyata EQ dan SQ memiliki muatan yang sama pentingnya untuk dapat bersinergi
antara satu sama lain.
Zohar dan Marshall memaparkan pembuktian ilmiah tentang
kecerdasan spiritual SQ ‘Spiritual Quotient’ (The Ultimate Intelligence,
London, 2000). Dua diantaranya adalah :
1.
Riset ahli psikologi/saraf, Michael Persinger
(1990) dan lebih mutakhir lagi oleh VS Ramachandran (1997) yang menemukan
eksistensi God Spot dalam otak manusia – telah built in sebagai pusat spiritual yang terletak diantara jaringan
saraf dan otak.
2. Riset
ahli saraf Ausrtia, Wolf Singer (1990) atas makalahnya: The Binding Problem,
yang menunjukkan ada proses saraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada
usaha untuk menyatukan serta memberi
makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan saraf yang secara literal
‘mengikat’ pengalaman kita secara bersama untuk ‘hidup lebih bermakna’. Pada
God Spot inilah sebenarnya terdapat value manusia tertinggi (The ultimate
Meaning), namun ironisnya SQ atau Spiritual Quotient tersebut belum, bahkan
tidak terjangkau nilai-nilai ketuhanan. Pembahasannya baru sebatas tataran
biologi-psikologi, tidak mampu mengungkap hal yang bersifat transendental yang
mengakar yang pada akhirnya kembali berakibat pada ‘kebuntuan’.
Fakta berikutnya Ian Mitroff dan Elizabeth A Denton
membeberkan dalam karyanya yang berjudul: A
Spiritual Audit of Corporate America: A Hard Look at Spirituality, Religion and
Values in The Workplace tersebut menuliskan bahwa: “Most of the executives defined spirituality in much the same way-not
as religion, but as ‘the basic desire to find purposes and meaning in one’s
life”.
Hal di atas makin memperkuat fenomena SQ yang perlahan
(namun pasti) menempati ruang di hati manusia, walau bukan seorang spiritualis
sekalipun. Namun temuan ‘God Spot’
mereka baru sebatas hardware-nya saja
(spiritual center pada otak manusia), belum ada software (isi dan kandungannya). ESQ Model adalah software dari God Spot untuk melakukan
Spiritual Engineering sekaligus sebagai mekanisme penggabungan tiga kecerdasan
manusia yaitu EQ, IQ, dan SQ dalam satu kesatuan yang integral dan transendental.
Dalam Al-Hadis :
“ Apabila manusia melakukan pendekatan diri
kepada Tuhan Pencipta mereka dengan bermacam-macam kebaikan, maka mendekatlah
engkau dengan akalmu, niscaya engkau merasakan nikmat yang lebih banyak, yaitu
dekat dengan manusia di dunia dan dekat dengan Allah di akhirat.”
Setelah
“Kecerdasan Intelektual “ yang lebih dikenal dengan IQ menjadi peranan
penting, muncul “Kecerdasan Emosional”( EQ ) yang diperkenalkan oleh Daniel
Goleman. Orang mulai menyadari bahwa kesuksesan dapat dicapai bila ada
keseimbangan antara“Kecerdasan Intelektual” dan “Kecerdasan Emosional” .
Kemudian Psikolog Danah Zohar dan suaminya Ian Marshall memunculkan Q yang
ketiga yaitu SQ yang merupakan landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara
efektif. Sependapat dengan mereka, SQ lebih tepat disebut “Kecerdasan
Spiritual” karena quotient adalah angka dari hasil pembagian.
“SQ: Spiritual
Intelligence – The Ultimate Intelligence” memuat bahwa Kecerdasan Spiritual
tidak bisa dihitung karena pertanyaan yang diberikan semata-mata merupakan
latihan perenungan. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, kita hidup dalam
budaya yang “bodoh secara spiritual”. Maksudnya, kita telah kehilangan
pemahaman terhadap nilai-nilai mendasar. Kehidupan yang “ bodoh secara
spiritual” ini ditandai dengan materialisme, egoisme, kehilangan makna dan
komitmen. Bahkan dikatakan, kekeringan spiritual terjadi sebagai produk dari IQ
manusia yang tinggi. Oleh karena itu, penting sekali kita meningkatkan SQ.
Apakah
SQ itu ? Danah dan Ian dalam bukunya edisi Indonesia “SQ: Memanfaatkan
Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai
Kehidupan” tidak memberikan batasan secara definitif.
Berbicara tentang SQ atau kecerdasan spiritual tidak
lepas dari konsep filosofis yang menjadi latar belakangnya. Konsep mengenai SQ
itu sendiri sebenarnya sudah lama diperbincangkan, hanya saja dengan kemasan
yang berbeda. Dalam ilmu psikologi dikenal tiga aliran besar yang menjadi
inspirasi bagi banyak aliran yang berkembang pada saat kemudian. Aliran
tersebut adalah behaviorisme, psikoanalisis dan humanistis.
Penelusuran pemahaman kecerdasan spiritual (SQ) saat
sekarang nampaknya cukup relevan, mengingat banyaknya persoalan-persoalan
sosial yang semakin membebani hidup seseorang. Sebagaimana yang dikemukakan
oleh Frankl (Koeswara, 1992) bahwa sebagian besar masyarakat sekarang mengidap
neurosis kolektif. Ciri dari gejala tersebut adalah:
a) Sikap
masa bodoh terhadap hidup, yaitu suatu sikap yang menunjukkan pesimisme dalam
menghadapi masa depan hidupnya.
b) Sikap
fatalistik terhadap hidup, menganggap bahwa masa depan sebagai sesuatu yang
mustahil dan membuat rencana bagi masa depan adalah kesia-siaan.
c) Pemikiran
konformis dan kolektivis. Yaitu cenderung melebur dalam masa dan melakukan
aktivitas atas nama kelompok.
d) Fanatisme,
yaitu mengingkari kelebihan yang dimiliki oleh kelompok atau orang lain.
Dengan
ciri-ciri tersebut manusia berjalan menuju penyalahartian dan penyalahtafsiran
tentang dirinya sendiri sebagai sesuatu yang "tidak lain" (nothing
but) dari refleks-refleks atau kumpulan dorongan (biologisme), dari
mekanisme-mekanisme psikis (psikologisme) dan produk lingkungan ekonomis
(sosiologisme). Dengan ketiga konteks tersebut maka manusia "tidak
lain" dalah mesin. Kondisi tersebut merupakan penderitaan spiritual bagi
manusia.
Mengenalkan SQ
Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah SQ tidak
mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan
jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh. SQ tidak
bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi
menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri.
SQ
adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memungkinkan otak
untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Utamanya
persoalan yang menyangkut masalah eksistensial, yaitu saat seseorang secara
pribadi terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu
akibat penyakit dan kesedihan. Dengan dimilikinya SQ seseorang mampu mengatasi
masalah hidupnya dan berdamai dengan masalah tersebut. SQ memberi sesuatu rasa
yang "dalam" pada diri seseorang menyangkut perjuangan hidup.
Perbedaan Otak IQ, EQ dan SQ
Penelusuran kecerdasan spiritual tampaknya merupakan
jawaban akan keterbatasan kemampuan intelektual (IQ) dan emosional (EQ) dalam
menyelesaikan kasus-kasus yang didasarkan atas krisis makna hidup. Otak IQ
dasar kerjanya adalah berfikir seri, linear, logis dan tidak melibatkan
perasaan. Keunggulan dari berfikir seri ini adalah akurat, tepat dan dapat
dipercaya. Kelemahannya adalah ia hanya bekerja dalam batas-batas yang
ditentukan, dan menjadi tidak berguna jika seseorang ingin menggali wawasan
baru atau berurusan dengan hal-hal yang terduga.
Otak EQ cara kerjanya berfikir asosiatif. Jenis pemikiran
ini membantu seseorang menciptakan asosiasi antarhal, misalnya antara lapar dan
nasi, antara rumah dan kenyamanan, antara ibu dan cinta, dll. Pada intinya
pemikiran inimencoba membuat asosiasi antara satu emosi dan yang lain, emosi
dan gejala tubuh, emosi dan lingkungan sekitar. Kelebihan cara berfikir
asosiatif adalah bahwa ia dapat berinteraksi dengan pengalaman dan dapat terus
berkembang melalui pengalaman atau eksperimen. Ia dapat mempelajari cara-cara
baru melalui pengalaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya, merupakan jenis
pemikiran yang dapat mengenali nuansa ambiguitas. Kelemahan dari otak EQ adalah
variasinya sangat individual dan tidak ada dua orang yang memiliki kehidupan
emosional yang sama. Hal ini tampak dari pernyataan "saya dapat mengenali
emosi anda, saya dapat berempati terhadapnya, tetapi saya tidak dapat memiliki
emosi anda".
Otak SQ cara kerjanya berfikir unitif, yaitu kemampuan
untuk menangkap seluruh konteks yang mengaitkan antar unsur yang terlibat.
Kemampuan untuk menangkap suatu situasi dan melakukan reaksi terhadapnya,
menciptakan pola dan aturan baru. Kemampuan ini merupakan ciri utama kesadaran,
yaitu kemampuan untuk mengalami dan menggunakan pengalaman tentang makna dan
nilai yang lebih tinggi.
Ciri-ciri
dari SQ yang berkembang dengan baik yaitu :
1. Kemampuan
bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)
2. Tingkat
kesadaran diri yang tinggi
3. Kemampuan
untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4. Kemampuan
untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
5. Kualitas
hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
6. Keengganan
untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7. Kecenderungan
untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (holistik)
8. Kecenderungan
nyata untuk bertanya "mengapa?" atau "bagaimana jika" untuk
mencari jawaban-jawaban mendasar
9. Mandiri
Kecerdasan Spiritual (SQ) yang berkembang dengan baik
dapat menjadikan seseorang memiliki "makna" dalam hidupnya. Dengan
"makna" hidup ini seseorang akan memiliki kualitas
"menjadi", yaitu suatu modus eksistensi yang dapat membuat seseorang
merasa gembira, menggunakan kemampuannya secara produktif dan dapat menyatu
dengan dunia.
“Kecerdasan
Spiritual” atau SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah
makna dan nilai yang menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna
yang lebih luas dan kaya; menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang
lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Selanjutnya berlandasan pada beberapa ahli psikologi (
Sigmund Freud, C.G.Jung), neurolog ( Persinger, Ramachandran ) dan filosof ( Daniel Dennett, Rene Descartes ),
Danah dan Ian membahas lebih dalam mengenai “Kecerdasan Spiritual”. “Kecerdasan
Spiritual” disimbolkan sebagai Teratai Diri yang menggabungkan tiga kecerdasan
dasar manusia ( rasional, emosional, dan spiritual ), tiga pemikiran ( seri,
asosiatif, dan penyatu ), tiga jalan dasar pengetahuan ( primer, sekunder, dan
tersier ) dan tiga tingkatan diri ( pusat transpersonal, tengah-asosiatif &
interpersonal, dan pinggiran-ego personal). Dengan demikian SQ berkaitan dengan
unsur pusat dari bagian diri manusia yang paling dalam menjadi pemersatu
seluruh bagian diri manusia lain.
SQ adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri
kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar. SQ
menjadikan manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan
spiritual. SQ adalah kecerdasan jiwa. Ia adalah kecerdasan yang dapat membantu
manusia menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh. Namun, pada zaman
sekarang ini terjadi krisis spiritual karena kebutuhan makna tidak terpenuhi
sehingga hidup manusia terasa dangkal dan hampa.
Seorang
intelektual muslim Dr Ali Shariati mengatakan bahwa: Manusia adalah makhluk dua
dimensi yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan dunia dan
akhirat. Oleh sebab itu, manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan
emosi serta intelegensi yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan
ruhaniah atau Spiritual Quotient
(SQ). Merujuk pada aspek di atas, maka pada akhirnya terjadi penggabungan
ketiganya dalam bentuk konsep ESQ (Emotional Spiritual Quotient), yang dapat
memelihara keseimbangan antara kutub keakhiratan dan kutub keduniawian.
Ada tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat
secara spiritual, yaitu tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya
sendiri sama sekali, telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak
proporsional, dan bertentangannya / buruknya hubungan antara bagian-bagian. Apa
usaha kita untuk mengatasinya ? Danah dan Ian memberikan “Enam Jalan Menuju
Kecerdasan Spiritual yang Lebih Tinggi” dan “Tujuh Langkah Praktis Mendapatkan
SQ Lebih Baik”.
Enam
Jalan tersebut yaitu (1) jalan tugas, (2) jalan pengasuhan, (3) jalan pengetahuan,
(4) jalan perubahan pribadi, (5) jalan persaudaraan, (6) jalan kepemimpinan
yang penuh pengabdian.
Sedangkan
Tujuh Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi adalah(1) menyadari di
mana saya sekarang, (2) merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah, (3)
merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling
dalam, (4) menemukan dan mengatasi rintangan, (5) menggali banyak kemungkinan
untuk melangkah maju, (6) menetapkan hati saya pada sebuah jalan, (7) tetap
menyadari bahwa ada banyak jalan.
Bila SQ seseorang telah berkembang dengan baik, maka
tanda-tanda yang akan terlihat pada diri seseorang adalah:
1. kemampuan
bersikap fleksibel
2. tingkat
kesadaran diri tinggi
3. kemampuan
untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4. kemampuan
untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
5. kualitas
hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
6. keengganan
untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7. kecenderungan
untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik)
8. kecenderungan
nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau “Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban
yang mendasar
9. memiliki
kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.
Danah dan Ian
mengajak kita untuk memahami pentingnya kecerdasan spiritual sebagai landasan
IQ dan EQ, mengingat krisis makna yang sedang melanda dunia. Mereka berpendapat
bahwa kecerdasan spiritual berkaitan dengan makna hidup, nilai-nilai dan
keutuhan diri. Orang dapat menemukan makna hidup dari bekerja, belajar,
berkarya bahkan saat menghadapi masalah atau penderitaan. Mungkin terjadi,
seorang atheis memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi karena seperti IQ dan
EQ, maka SQ pun merupakan potensi manusiawi. Sedangkan SQ adalah kemampuan
internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam
semesta sendiri. Dikatakan pula, SQ tidak bergantung pada budaya maupun nilai,
tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. SQ
membuat agama menjadi mungkin (bahkan mungkin perlu ), tetapi SQ tidak musti
bergantung pada agama. Akan tetapi, lebih baik ketiga potensi ( IQ, EQ, dan SQ)
tersebut dilandasi oleh agama. Selain itu sejauh mana keberadaan SQ yang ada
dalam diri manusia masih perlu dikaji mengingat mereka berasal dari kultur yang
berbeda dengan kita.
Kecerdasan
Spiritual Anak
Dalam peran kita
sebagai pendidik, siswa adalah peserta didik yang juga perlu pendidikan yang
menjangkau ranah Spiritual. Menurut Prof Dr Komaruddin Hidayat, Direktur
Eksekutif Pendidikan Madania hakikat spiritual anak-anak tercermin dalam sikap
spontan, imajinasi, dan kreativitas yang tak terbatas, dan semuanya ini
dilakukan dengan terbuka serta ceria. Prof Dr Komaruddin mengungkapkan bahawa
ada sepuluh panduan yang bisa diikuti untuk menumbuhkan dan mengembangkan
kecerdasan spiritual antara lain :
1.
Ajarkan
kepada anak bahwa Tuhan selalu memperhatikan kehidupan kita. Melalui latihan
berdoa dan pembiasaan ritual akan bisa memperhalus perasaan dan mencerdaskan
spiritualitas anak. Dalam hal ini, selain guru di sekolah penting bagi orangtua
untuk selalu memberi contoh yang bagus di mata anak.
2.
Ajarkan
kepada anak-anak bahwa hidup dan kehidupan ini saling berhubungan. Tak mungkin
kita hidup sendiri, mencukupi semua yang diperlukan. Keterkaitan ini tidak saja
antara sesama manusia, melainkan juga dengan lingkungan alam, seperti udara,
air, cahaya, tumbuhan, hewan, bahkan sampai bakteri yang ikut menopang hidup
kita.
3.
Jadilah
guru sebagai pendengar yang baik bagi siswanya. Jika anak bicara jangan
buru-buru dipotong lalu diceramahi. Dengarkan dan perhatikan dengan tatapan
mata yang penuh antusias dan stimulatif agar anak terlatih mengutarakan pikiran
dan emosinya dengan lancar, tertib, dan jernih. Ibarat sumur, kalau sering
ditimba maka airnya akan jernih.
4.
Ajarkan
anak-anak untuk menggunakan kata dan ungkapan yang bagus, indah, dan mendorong
imajinasi. Kalau sulit, bisa dikemukakan melalui bacaan yang bagus. Biasakan
membeli dan membacakan buku buat anak-anak kita. Kalau anak tertarik, bisa
dibacakan berulang kali agar merasuk lebih dalam lagi pesan dan bekasnya.
5.
Dorong
anak-anak untuk berimajinasi tentang masa depannya dan tentang kehidupan.
Imajinasi akan melatih anak selalu berpikir hal-hal yang melampaui batas materi
dan ini akan mencerdaskan spiritualnya. Imajinasi juga akan mengaktifkan otak
kanan yang cenderung berpikir holistik, intuitif, dan imajinatif.
6.
Temukan
dan rayakan keajaiban yang terjadi setiap hari atau minggu. Jangan sampai hidup
dilalui secara rutin dan mekanis. Banyak terjadi keajaiban setiap hari yang
harus diberi makna, disyukuri, dan dirayakan sekalipun dengan cara yang
sederhana, asal memberikan sentuhan hati pada anak.
7.
Berikanlah
ruang kepada anak untuk berkreasi, menentukan program dan jadwal kegiatan. Anak
yang terlalu diatur dan didikte bisa tumbuh menjadi pemberontak atau sebaliknya
menjadi pasif, tidak terbiasa dengan inisiatif. Ajarkan kepada anak untuk bisa
memahami pilihan-pilihannya.
8.
Jadilah
cermin positif bagi anak-anak. Dalam kehidupan tanpa disadari guru dan orang
tuamasing - masing merupakan aktor yang selalu dilihat dan dinilai oleh yang
lain. Maka jadilah aktor atau model peran yang baik bagi anak-anak.
Sekali-sekali adakan forum untuk saling menyampaikan kesan dan penilaian yang
satu kepada yang lain dalam suasana yang rileks, nyaman, tanpa tekanan. Bahkan
masing-masing harus bisa menghargai yang lain.
9.
Sekali-sekali
ciptakan suasana yang benar-benar santai, melepaskan semua ketegangan dan
kepenatan fisik maupun psikis. Inilah yang dimaksud rekreasi melalui relaksasi.
10. Setiap hari adalah istimewa, yang
wajib dihayati dan disyukuri. Setiap pagi ajak anak-anak untuk bersyukur pada
Tuhan sambil menatap langit, matahari, pohon-pohonan. Sampaikan terima kasih
dan pujian atas kebaikan dan keindahan yang selalu hadir menyertai kita tanpa
memungut bayaran
Jiwa anak-anak
intuitif dan terbuka secara alami, maka orangtua dan guru hendaknya selalu
memelihara dan memupuk spiritualitas anak, sumber keceriaan, dan makna hidup.
Caranya dengan melalui perkataan, tindakan, dan perhatian pada indahnya alam.
Pada matahari terbit, pada awan yang berarak-arakan, pada langit biru, atau
pada burung terbang. Bawalah anak-anak memperhatikan perilaku alam yang akan
mengundang ketakjuban anak terhadap keindahan alam. Di mana ada ketakjuban, di
sana ada spiritualitas. Anak-anak memiliki hati polos dan bening. Segala yang
tampak biasa akan menjadi indah dan mengundang ketakjuban, jika dilihat dengan
hati yang bening dan sikap santun, serta cinta pada alam dan kehidupan.
Orangtua pantas belajar pada anak, bagaimana memperoleh kembali kesucian,
keceriaan, spontanitas, dan kedamaian dengan alam dan Tuhan. Dengan merawat
spiritualitas anak, orangtua akan membantu mereka menatap dan mendesain masa
depan dengan tatapan yang bening, optimis, dan yakin.
Menurut Jalaludin
Rakhmat Kiat-kiat mengembangkan SQ anak antara lain :
1. Jadilah
kita “gembala spiritual” yang baik.
Orang tua atau guru yang
bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang sudah mengalami
kesadaran spiritual juga. Ia sudah “mengakses” sumber-sumber spiritual untuk
mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan di atas -yakni karakteristik orang
yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan
Tuhan dalam hidupnya. “Spiritual intelligence is the faculty of our
non-material dimension- the human soul,”
2. Bantulah
anak untuk merumuskan “missi” hidupnya.
Nyatakan kepada anak bahwa
ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan
paling jauh, tujuan akhir kita.
3. Baca
kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita.
Setiap agama pasti punya
kitab suci. Membaca kitab suci memberikan arti dan nilai positif yang sangat
baik dalam kehidupan sehari - hari.
4. Ceritakan kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh
spiritual.
Anak-anak, bahkan orang
dewasa, sangat terpengaruh dengan cerita. Manusia, adalah satu-satunya makhluk
yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya. Begitupun
Para Nabi mengajar umatnya dengan parabel atau kisah perumpamaan. Sehingga
kisah - kisah agung dapat menginspirasi manusia.
5. Diskusikan
berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah.
Melihat dari perspektif
ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung Ilahi.
Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Penderitaan adalah cara
Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Perawat Agung
memberikan susu keabadian kepadamu. Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana
Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh
sebelum kita dapat menyebut asma-Nya.
6. Libatkan
anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan.
Kegiatan agama adalah cara
praktis untuk “tune in” dengan Sumber dari Segala Kekuatan. Sembahyang, dalam
bentuk apa pun, mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke
pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan
dengan terlalu banyak menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak
kita makna batiniah dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan
sekedar kewajiban. Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang
Mahakasih dan Mahasayang!
7. Bacakan
puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional.
Indera batiniah kita
berhubungan erat dengan empati, cinta, kedamaian, keindahan. Untuk melatihnya
salah satunya dengan syair - syair yang indah.
8. Bawa
anak untuk menikmati keindahan alam.
Teknologi modern dan
kehidupan urban membuat kita teralienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi
dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari,
dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita
memusuhinya. Bawalah anak-anak kita kepada alam yang relatif belum banyak
tercemari. Ajak mereka naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan
sejuk. Dengarkan burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian
alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki
kita dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya. Dan seterusnya. Kita
harus menyediakan waktu khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan,
setelah setiap hari kita dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.
9. Bawa
anak ke tempat-tempat orang yang menderita.
Nabi Musa pernah
berjumpadengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia
merindukan pertemuan dengan Dia bermunajat, “Tuhanku, di mana bisa kutemui
Engkau.” Tuhan berfirman, “Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang yang
hancur hatinya.”
10. Ikut-sertakan
anak dalam kegiatan-kegiatan sosial.
Kegiatan - kegiatan sosial
akan melatih empati, cinta dan kasih sayang anak terhadap sesama yang sedang
mengalami musibah atau sesuatu yang membuat menderita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar