Senin, 24 Oktober 2011


KECERDASAN SPIRITUAL ( SQ )

Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti roh. Kata ini berasal dari bahasa Latin, spiritus, yang berarti napas. Selain itu kata spiritus dapat mengandung arti sebuah bentuk alkohol yang dimurnikan. Sehingga spiritual dapat diartikan sebagai sesuatu yang murni. Roh bisa diartikan sebagai energi kehidupan, yang membuat manusia dapat hidup, bernapas dan bergerak. Spiritual berarti pula segala sesuatu di luar fisik, termasuk pikiran, perasaan, dan karakter kita.Sebelumnya saya hendak mengingatkan dan mohon agar dipahami dengan benar, bahwa spiritual bukanlah agama dan agama bukanlah spiritual. Banyak sekali di antara kita yang menganggap bahwa keduanya adalah hal yang sama. Padahal keduanya adalah jenis yang berbeda.Ketika kita “berpikir” tentang hakekat kehidupan, memandang alam dan hidup ini sebagai sesuatu yang penuh makna dan pelajaran, atau memahami konsep-konsep ketuhanan. Lantas kita ”sadar” siapa diri kita sebenarnya, di mana tempat kita berada di alam semesta dan ke manakah tujuan hidup kita. Insyaallah, itu berarti kita telah memasuki wilayah spiritualitas. Sedangkan agama adalah alat spiritual, yang berfungsi sebagai pegangan dan pembimbing kecerdasan spiritual. Dengan kata lain agama adalah wadah bagi spiritual, sehingga agama yang benar (True Religion) adalah agama yang mampu mengakomodasi segala kebutuhan spiritualisme manusia. Bila agama yang anda peluk tidak mampu mengakomodir segala kebutuhan spiritual anda, maka agama yang anda anut tidak benar dan anda wajib mengkaji ulang agama yang anda yakini itu.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."
(Al-Isra : 36)
Kecerdasan spiritual (SQ), merupakan temuan terkini secara alamiah yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall melalui riset yang sangat komprehensif. Danah Zohar dan Ian Marshall mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita (Danah Zohar dan Ian Marshall, “SQ: Spiritual Intelligence”, Bloomsbury, Great Britain).
Dalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, perilaku, dan kegiatan, serta mampu menyinergikan IQ, EQ, dan SQ secara komprehensif. Meski keduanya berbeda, ternyata EQ dan SQ memiliki muatan yang sama pentingnya untuk dapat bersinergi antara satu sama lain.
Zohar dan Marshall memaparkan pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual SQ ‘Spiritual Quotient’ (The Ultimate Intelligence, London, 2000). Dua diantaranya adalah :
1.    Riset ahli psikologi/saraf, Michael Persinger (1990) dan lebih mutakhir lagi oleh VS Ramachandran (1997) yang menemukan eksistensi God Spot dalam otak manusia – telah built in sebagai pusat spiritual yang terletak diantara jaringan saraf dan otak.
2.    Riset ahli saraf Ausrtia, Wolf Singer (1990) atas makalahnya: The Binding Problem, yang menunjukkan ada proses saraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha untuk  menyatukan serta memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan saraf yang secara literal ‘mengikat’ pengalaman kita secara bersama untuk ‘hidup lebih bermakna’. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat value manusia tertinggi (The ultimate Meaning), namun ironisnya SQ atau Spiritual Quotient tersebut belum, bahkan tidak terjangkau nilai-nilai ketuhanan. Pembahasannya baru sebatas tataran biologi-psikologi, tidak mampu mengungkap hal yang bersifat transendental yang mengakar yang pada akhirnya kembali berakibat pada ‘kebuntuan’.
Fakta berikutnya Ian Mitroff dan Elizabeth A Denton membeberkan dalam karyanya yang berjudul: A Spiritual Audit of Corporate America: A Hard Look at Spirituality, Religion and Values in The Workplace tersebut menuliskan bahwa: “Most of the executives defined spirituality in much the same way-not as religion, but as ‘the basic desire to find purposes and meaning in one’s life”.
Hal di atas makin memperkuat fenomena SQ yang perlahan (namun pasti) menempati ruang di hati manusia, walau bukan seorang spiritualis sekalipun. Namun temuan ‘God Spot’ mereka baru sebatas hardware-nya saja (spiritual center pada otak manusia), belum ada software (isi dan kandungannya). ESQ Model adalah software dari God Spot untuk melakukan Spiritual Engineering sekaligus sebagai mekanisme penggabungan tiga kecerdasan manusia yaitu EQ, IQ, dan SQ dalam satu kesatuan yang integral dan transendental.


Dalam Al-Hadis :
Apabila manusia melakukan pendekatan diri kepada Tuhan Pencipta mereka dengan bermacam-macam kebaikan, maka mendekatlah engkau dengan akalmu, niscaya engkau merasakan nikmat yang lebih banyak, yaitu dekat dengan manusia di dunia dan dekat dengan Allah di akhirat.”

Setelah  “Kecerdasan Intelektual “ yang lebih dikenal dengan IQ menjadi peranan penting, muncul “Kecerdasan Emosional”( EQ ) yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman. Orang mulai menyadari bahwa kesuksesan dapat dicapai bila ada keseimbangan antara“Kecerdasan Intelektual” dan “Kecerdasan Emosional” . Kemudian Psikolog Danah Zohar dan suaminya Ian Marshall memunculkan Q yang ketiga yaitu SQ yang merupakan landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Sependapat dengan mereka, SQ lebih tepat disebut “Kecerdasan Spiritual” karena quotient adalah angka dari hasil pembagian.
 “SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence” memuat bahwa Kecerdasan Spiritual tidak bisa dihitung karena pertanyaan yang diberikan semata-mata merupakan latihan perenungan. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, kita hidup dalam budaya yang “bodoh secara spiritual”. Maksudnya, kita telah kehilangan pemahaman terhadap nilai-nilai mendasar. Kehidupan yang “ bodoh secara spiritual” ini ditandai dengan materialisme, egoisme, kehilangan makna dan komitmen. Bahkan dikatakan, kekeringan spiritual terjadi sebagai produk dari IQ manusia yang tinggi. Oleh karena itu, penting sekali kita meningkatkan SQ.
Apakah SQ itu ? Danah dan Ian dalam bukunya edisi Indonesia “SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan” tidak memberikan batasan secara definitif.
Berbicara tentang SQ atau kecerdasan spiritual tidak lepas dari konsep filosofis yang menjadi latar belakangnya. Konsep mengenai SQ itu sendiri sebenarnya sudah lama diperbincangkan, hanya saja dengan kemasan yang berbeda. Dalam ilmu psikologi dikenal tiga aliran besar yang menjadi inspirasi bagi banyak aliran yang berkembang pada saat kemudian. Aliran tersebut adalah behaviorisme, psikoanalisis dan humanistis.
Penelusuran pemahaman kecerdasan spiritual (SQ) saat sekarang nampaknya cukup relevan, mengingat banyaknya persoalan-persoalan sosial yang semakin membebani hidup seseorang. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Frankl (Koeswara, 1992) bahwa sebagian besar masyarakat sekarang mengidap neurosis kolektif. Ciri dari gejala tersebut adalah:
a)    Sikap masa bodoh terhadap hidup, yaitu suatu sikap yang menunjukkan pesimisme dalam menghadapi masa depan hidupnya.
b)    Sikap fatalistik terhadap hidup, menganggap bahwa masa depan sebagai sesuatu yang mustahil dan membuat rencana bagi masa depan adalah kesia-siaan.
c)    Pemikiran konformis dan kolektivis. Yaitu cenderung melebur dalam masa dan melakukan aktivitas atas nama kelompok.
d)    Fanatisme, yaitu mengingkari kelebihan yang dimiliki oleh kelompok atau orang lain.
Dengan ciri-ciri tersebut manusia berjalan menuju penyalahartian dan penyalahtafsiran tentang dirinya sendiri sebagai sesuatu yang "tidak lain" (nothing but) dari refleks-refleks atau kumpulan dorongan (biologisme), dari mekanisme-mekanisme psikis (psikologisme) dan produk lingkungan ekonomis (sosiologisme). Dengan ketiga konteks tersebut maka manusia "tidak lain" dalah mesin. Kondisi tersebut merupakan penderitaan spiritual bagi manusia.
Mengenalkan SQ
Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah SQ tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh. SQ tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri.
SQ adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Utamanya persoalan yang menyangkut masalah eksistensial, yaitu saat seseorang secara pribadi terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu akibat penyakit dan kesedihan. Dengan dimilikinya SQ seseorang mampu mengatasi masalah hidupnya dan berdamai dengan masalah tersebut. SQ memberi sesuatu rasa yang "dalam" pada diri seseorang menyangkut perjuangan hidup.
Perbedaan Otak IQ, EQ dan SQ
Penelusuran kecerdasan spiritual tampaknya merupakan jawaban akan keterbatasan kemampuan intelektual (IQ) dan emosional (EQ) dalam menyelesaikan kasus-kasus yang didasarkan atas krisis makna hidup. Otak IQ dasar kerjanya adalah berfikir seri, linear, logis dan tidak melibatkan perasaan. Keunggulan dari berfikir seri ini adalah akurat, tepat dan dapat dipercaya. Kelemahannya adalah ia hanya bekerja dalam batas-batas yang ditentukan, dan menjadi tidak berguna jika seseorang ingin menggali wawasan baru atau berurusan dengan hal-hal yang terduga.
Otak EQ cara kerjanya berfikir asosiatif. Jenis pemikiran ini membantu seseorang menciptakan asosiasi antarhal, misalnya antara lapar dan nasi, antara rumah dan kenyamanan, antara ibu dan cinta, dll. Pada intinya pemikiran inimencoba membuat asosiasi antara satu emosi dan yang lain, emosi dan gejala tubuh, emosi dan lingkungan sekitar. Kelebihan cara berfikir asosiatif adalah bahwa ia dapat berinteraksi dengan pengalaman dan dapat terus berkembang melalui pengalaman atau eksperimen. Ia dapat mempelajari cara-cara baru melalui pengalaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya, merupakan jenis pemikiran yang dapat mengenali nuansa ambiguitas. Kelemahan dari otak EQ adalah variasinya sangat individual dan tidak ada dua orang yang memiliki kehidupan emosional yang sama. Hal ini tampak dari pernyataan "saya dapat mengenali emosi anda, saya dapat berempati terhadapnya, tetapi saya tidak dapat memiliki emosi anda".
Otak SQ cara kerjanya berfikir unitif, yaitu kemampuan untuk menangkap seluruh konteks yang mengaitkan antar unsur yang terlibat. Kemampuan untuk menangkap suatu situasi dan melakukan reaksi terhadapnya, menciptakan pola dan aturan baru. Kemampuan ini merupakan ciri utama kesadaran, yaitu kemampuan untuk mengalami dan menggunakan pengalaman tentang makna dan nilai yang lebih tinggi.
Ciri-ciri dari SQ yang berkembang dengan baik yaitu :
1.    Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)
2.    Tingkat kesadaran diri yang tinggi
3.    Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4.    Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
5.    Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
6.    Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7.    Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (holistik)
8.    Kecenderungan nyata untuk bertanya "mengapa?" atau "bagaimana jika" untuk mencari jawaban-jawaban mendasar
9.    Mandiri
Kecerdasan Spiritual (SQ) yang berkembang dengan baik dapat menjadikan seseorang memiliki "makna" dalam hidupnya. Dengan "makna" hidup ini seseorang akan memiliki kualitas "menjadi", yaitu suatu modus eksistensi yang dapat membuat seseorang merasa gembira, menggunakan kemampuannya secara produktif dan dapat menyatu dengan dunia.
 “Kecerdasan Spiritual” atau SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai yang menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya; menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Selanjutnya berlandasan pada beberapa ahli psikologi ( Sigmund Freud, C.G.Jung), neurolog ( Persinger, Ramachandran ) dan filosof          ( Daniel Dennett, Rene Descartes ), Danah dan Ian membahas lebih dalam mengenai “Kecerdasan Spiritual”. “Kecerdasan Spiritual” disimbolkan sebagai Teratai Diri yang menggabungkan tiga kecerdasan dasar manusia ( rasional, emosional, dan spiritual ), tiga pemikiran ( seri, asosiatif, dan penyatu ), tiga jalan dasar pengetahuan ( primer, sekunder, dan tersier ) dan tiga tingkatan diri ( pusat transpersonal, tengah-asosiatif & interpersonal, dan pinggiran-ego personal). Dengan demikian SQ berkaitan dengan unsur pusat dari bagian diri manusia yang paling dalam menjadi pemersatu seluruh bagian diri manusia lain.
SQ adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar. SQ menjadikan manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan spiritual. SQ adalah kecerdasan jiwa. Ia adalah kecerdasan yang dapat membantu manusia menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh. Namun, pada zaman sekarang ini terjadi krisis spiritual karena kebutuhan makna tidak terpenuhi sehingga hidup manusia terasa dangkal dan hampa.
 Seorang intelektual muslim Dr Ali Shariati mengatakan bahwa: Manusia adalah makhluk dua dimensi yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi serta intelegensi yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan ruhaniah atau Spiritual Quotient (SQ). Merujuk pada aspek di atas, maka pada akhirnya terjadi penggabungan ketiganya dalam bentuk konsep ESQ (Emotional Spiritual Quotient), yang dapat memelihara keseimbangan antara kutub keakhiratan dan kutub keduniawian.
Ada tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara spiritual, yaitu tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali, telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional, dan bertentangannya / buruknya hubungan antara bagian-bagian. Apa usaha kita untuk mengatasinya ? Danah dan Ian memberikan “Enam Jalan Menuju Kecerdasan Spiritual yang Lebih Tinggi” dan “Tujuh Langkah Praktis Mendapatkan SQ Lebih Baik”.
Enam Jalan tersebut yaitu (1) jalan tugas, (2) jalan pengasuhan, (3) jalan pengetahuan, (4) jalan perubahan pribadi, (5) jalan persaudaraan, (6) jalan kepemimpinan yang penuh pengabdian.
Sedangkan Tujuh Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi adalah(1) menyadari di mana saya sekarang, (2) merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah, (3) merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam, (4) menemukan dan mengatasi rintangan, (5) menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju, (6) menetapkan hati saya pada sebuah jalan, (7) tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.
Bila SQ seseorang telah berkembang dengan baik, maka tanda-tanda yang akan terlihat pada diri seseorang adalah:
1.    kemampuan bersikap fleksibel
2.    tingkat kesadaran diri tinggi
3.    kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4.    kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
5.    kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
6.    keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7.    kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik)
8.    kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau “Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar
9.    memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Danah dan Ian mengajak kita untuk memahami pentingnya kecerdasan spiritual sebagai landasan IQ dan EQ, mengingat krisis makna yang sedang melanda dunia. Mereka berpendapat bahwa kecerdasan spiritual berkaitan dengan makna hidup, nilai-nilai dan keutuhan diri. Orang dapat menemukan makna hidup dari bekerja, belajar, berkarya bahkan saat menghadapi masalah atau penderitaan. Mungkin terjadi, seorang atheis memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi karena seperti IQ dan EQ, maka SQ pun merupakan potensi manusiawi. Sedangkan SQ adalah kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta sendiri. Dikatakan pula, SQ tidak bergantung pada budaya maupun nilai, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. SQ membuat agama menjadi mungkin (bahkan mungkin perlu ), tetapi SQ tidak musti bergantung pada agama. Akan tetapi, lebih baik ketiga potensi ( IQ, EQ, dan SQ) tersebut dilandasi oleh agama. Selain itu sejauh mana keberadaan SQ yang ada dalam diri manusia masih perlu dikaji mengingat mereka berasal dari kultur yang berbeda dengan kita.

Kecerdasan Spiritual Anak
Dalam peran kita sebagai pendidik, siswa adalah peserta didik yang juga perlu pendidikan yang menjangkau ranah Spiritual. Menurut Prof Dr Komaruddin Hidayat, Direktur Eksekutif Pendidikan Madania hakikat spiritual anak-anak tercermin dalam sikap spontan, imajinasi, dan kreativitas yang tak terbatas, dan semuanya ini dilakukan dengan terbuka serta ceria. Prof Dr Komaruddin mengungkapkan bahawa ada sepuluh panduan yang bisa diikuti untuk menumbuhkan dan mengembangkan kecerdasan spiritual antara lain :
1.    Ajarkan kepada anak bahwa Tuhan selalu memperhatikan kehidupan kita. Melalui latihan berdoa dan pembiasaan ritual akan bisa memperhalus perasaan dan mencerdaskan spiritualitas anak. Dalam hal ini, selain guru di sekolah penting bagi orangtua untuk selalu memberi contoh yang bagus di mata anak.
2.    Ajarkan kepada anak-anak bahwa hidup dan kehidupan ini saling berhubungan. Tak mungkin kita hidup sendiri, mencukupi semua yang diperlukan. Keterkaitan ini tidak saja antara sesama manusia, melainkan juga dengan lingkungan alam, seperti udara, air, cahaya, tumbuhan, hewan, bahkan sampai bakteri yang ikut menopang hidup kita.
3.    Jadilah guru sebagai pendengar yang baik bagi siswanya. Jika anak bicara jangan buru-buru dipotong lalu diceramahi. Dengarkan dan perhatikan dengan tatapan mata yang penuh antusias dan stimulatif agar anak terlatih mengutarakan pikiran dan emosinya dengan lancar, tertib, dan jernih. Ibarat sumur, kalau sering ditimba maka airnya akan jernih.
4.    Ajarkan anak-anak untuk menggunakan kata dan ungkapan yang bagus, indah, dan mendorong imajinasi. Kalau sulit, bisa dikemukakan melalui bacaan yang bagus. Biasakan membeli dan membacakan buku buat anak-anak kita. Kalau anak tertarik, bisa dibacakan berulang kali agar merasuk lebih dalam lagi pesan dan bekasnya.
5.    Dorong anak-anak untuk berimajinasi tentang masa depannya dan tentang kehidupan. Imajinasi akan melatih anak selalu berpikir hal-hal yang melampaui batas materi dan ini akan mencerdaskan spiritualnya. Imajinasi juga akan mengaktifkan otak kanan yang cenderung berpikir holistik, intuitif, dan imajinatif.
6.    Temukan dan rayakan keajaiban yang terjadi setiap hari atau minggu. Jangan sampai hidup dilalui secara rutin dan mekanis. Banyak terjadi keajaiban setiap hari yang harus diberi makna, disyukuri, dan dirayakan sekalipun dengan cara yang sederhana, asal memberikan sentuhan hati pada anak.
7.    Berikanlah ruang kepada anak untuk berkreasi, menentukan program dan jadwal kegiatan. Anak yang terlalu diatur dan didikte bisa tumbuh menjadi pemberontak atau sebaliknya menjadi pasif, tidak terbiasa dengan inisiatif. Ajarkan kepada anak untuk bisa memahami pilihan-pilihannya.
8.    Jadilah cermin positif bagi anak-anak. Dalam kehidupan tanpa disadari guru dan orang tuamasing - masing merupakan aktor yang selalu dilihat dan dinilai oleh yang lain. Maka jadilah aktor atau model peran yang baik bagi anak-anak. Sekali-sekali adakan forum untuk saling menyampaikan kesan dan penilaian yang satu kepada yang lain dalam suasana yang rileks, nyaman, tanpa tekanan. Bahkan masing-masing harus bisa menghargai yang lain.
9.    Sekali-sekali ciptakan suasana yang benar-benar santai, melepaskan semua ketegangan dan kepenatan fisik maupun psikis. Inilah yang dimaksud rekreasi melalui relaksasi.
10. Setiap hari adalah istimewa, yang wajib dihayati dan disyukuri. Setiap pagi ajak anak-anak untuk bersyukur pada Tuhan sambil menatap langit, matahari, pohon-pohonan. Sampaikan terima kasih dan pujian atas kebaikan dan keindahan yang selalu hadir menyertai kita tanpa memungut bayaran
Jiwa anak-anak intuitif dan terbuka secara alami, maka orangtua dan guru hendaknya selalu memelihara dan memupuk spiritualitas anak, sumber keceriaan, dan makna hidup. Caranya dengan melalui perkataan, tindakan, dan perhatian pada indahnya alam. Pada matahari terbit, pada awan yang berarak-arakan, pada langit biru, atau pada burung terbang. Bawalah anak-anak memperhatikan perilaku alam yang akan mengundang ketakjuban anak terhadap keindahan alam. Di mana ada ketakjuban, di sana ada spiritualitas. Anak-anak memiliki hati polos dan bening. Segala yang tampak biasa akan menjadi indah dan mengundang ketakjuban, jika dilihat dengan hati yang bening dan sikap santun, serta cinta pada alam dan kehidupan. Orangtua pantas belajar pada anak, bagaimana memperoleh kembali kesucian, keceriaan, spontanitas, dan kedamaian dengan alam dan Tuhan. Dengan merawat spiritualitas anak, orangtua akan membantu mereka menatap dan mendesain masa depan dengan tatapan yang bening, optimis, dan yakin.

Menurut Jalaludin Rakhmat Kiat-kiat mengembangkan SQ anak antara lain :
1.    Jadilah kita “gembala spiritual” yang baik.
Orang tua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga. Ia sudah “mengakses” sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan di atas -yakni karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya. “Spiritual intelligence is the faculty of our non-material dimension- the human soul,”
2.    Bantulah anak untuk merumuskan “missi” hidupnya.
Nyatakan kepada anak bahwa ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita.
3.    Baca kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita.
Setiap agama pasti punya kitab suci. Membaca kitab suci memberikan arti dan nilai positif yang sangat baik dalam kehidupan sehari - hari.
4.     Ceritakan kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual.
Anak-anak, bahkan orang dewasa, sangat terpengaruh dengan cerita. Manusia, adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya. Begitupun Para Nabi mengajar umatnya dengan parabel atau kisah perumpamaan. Sehingga kisah - kisah agung dapat menginspirasi manusia.
5.    Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah.
Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung Ilahi. Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Perawat Agung memberikan susu keabadian kepadamu. Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh sebelum kita dapat menyebut asma-Nya.
6.    Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan.
Kegiatan agama adalah cara praktis untuk “tune in” dengan Sumber dari Segala Kekuatan. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekedar kewajiban. Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan Mahasayang!
7.    Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional.
Indera batiniah kita berhubungan erat dengan empati, cinta, kedamaian, keindahan. Untuk melatihnya salah satunya dengan syair - syair yang indah.

8.    Bawa anak untuk menikmati keindahan alam.
Teknologi modern dan kehidupan urban membuat kita teralienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita memusuhinya. Bawalah anak-anak kita kepada alam yang relatif belum banyak tercemari. Ajak mereka naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk. Dengarkan burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya. Dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.
9.    Bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita.
Nabi Musa pernah berjumpadengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia merindukan pertemuan dengan Dia bermunajat, “Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau.” Tuhan berfirman, “Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya.”

10. Ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial.
Kegiatan - kegiatan sosial akan melatih empati, cinta dan kasih sayang anak terhadap sesama yang sedang mengalami musibah atau sesuatu yang membuat menderita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar